Daftar Blog Saya

Sabtu, 10 Desember 2011

Media Pembelajaran

A. Definisi Media Pembelajaran
Proses belajar mengajar adalah proses komunikasi yang melibatkan penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Proses pengubahan pesan berupa materi bahan ajar menjadi simbul komunikasi baik verbal maupun non verbal disebut enconding. Penapsiran simbul komunikasi tersebut oleh peserta didik disebut decoding, sedangkan penafsiran dalam memahami apa yang didengar, dibaca, dilihat atau diamati ada kalanya berhasil, ada kalanya tidak. Media diperlukan sebagai perantara komunikasi. Media adalah alat yang berfungsi menyampaikan pesan ( Bovee, 1997 dalam ,,,,,,,,,,,,). Media pembelajaran adalah alat yang berfungsi untuk menyampaiakan pesan pembelajaran. Pembelajarn merupakan sebuah proses komunikasi antara peserta didik, pendidik dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyamai pesan atau media.bentuk stiulus yang daoat digunkan seagi media adalah hubungan atau interaksi manusia, realita, gambar yang bergerakatau tida bergrak,tulisan serta suara yang direkam.
Secara etimologi, kata “media” merupakan bentuk jamak dari “medium”, yang berasal dan Bahasa Latin “medius” yang berarti tengah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang” sehingga pengertian media dapat mengarah pada sesuatu yang mengantar atau meneruskan informasi (pesan) antara sumber (pemberi pesan) dan penerima pesan. Media dapat diartikan sebagai suatu bentuk dan saluran yang dapat digunakan dalam suatu proses penyajian informasi (AECT, 1977:162).
Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga, kemudian dikenal dengan istilah audio visual aids (alat bantu pandang/dengar). Selanjutnya disebut instructional materials (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim digunakan dalam dunia pendidikan nasional adalah instructional media (media pendidikan atau media pembelajaran). Dalam perkembangannya, sekarang muncul istilah e-Learning. Huruf “e” merupakan singkatan dari “elektronik”. Artinya media pembelajaran berupa alat elektronik, meliputi CD Multimedia Interaktif sebagai bahan ajar offline dan Web sebagai bahan ajar online.
Berikut ini beberapa pendapat para ahli komunikasi atau ahli bahasa tentang pengertian media yaitu :
1. Orang, material, atau kejadian yang dapat menciptakan kondisi sehingga memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterapilan, dan sikap yang baru, dalam pengertian meliputi buku, guru, dan lingkungan sekolah (Gerlach dan Ely dalam Ibrahim, 1982).
2. Saluran komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan antara sumber (pemberi pesan) dengan penerima pesan (Blake dan Horalsen dalam Latuheru, 1988 ).
3. Komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada pembeajar bisa berupa alat, bahan, dan orang (Degeng, 1989 ).
4. Media sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan pengirim pesan kepada penerima pesan, sehingga dapat merangsang pildran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan efektif dan efesien sesuai dengan yang diharapkan (Sadiman, dkk., 2002 ).
5. Alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi, yang terdiri antara lain buku, tape-recorder, kaset, video kamera, video recorder, film, slide, foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer (Gagne dan Briggs dalam Arsyad, 2002 ).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media pengajaran adalah bahan, alat, maupun metode/teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukatif antara guru dan anak didik dapat berlangsung secara efektif dan efesien sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah dicita-citakan.




B. Tujuan Penggunaan Media pembelajaran
Penggunaan media pengajaran sangat diperlukan dalam kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan. Menurut Ahcjar, 2010 manfaat penggunaan media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Menimbulkan minat sasaran.
2. Mencapai sasaran yang lebih banyak .
3. Membantu dalam mengatasinbanyak hambatan .
4. Membantu sasaran utk belajar lebih banyak dan cepat .
5. Mempermudah penyampaian bahan oleh pendidik .
6. Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran .
7. Merangsang sasaran untuk pesan yang diterima kepada orang lain.
Menurut Achsin (1986 ) tujuan penggunaan media pengajaran adalah sebagai berikut:
1. Agar proses belajar mengajar yang sedang berlangsung dapat berjalan dengan tepat guna dan berdaya guna,
2. Untuk mempermudah bagi guru/pendidik daiam menyampaikan informasi materi kepada anak didik,
3. Untuk mempermudah bagi anak didik dalam menyerap atau menerima serta memahami materi yang telah disampaikan oleh guru/pendidik,
4. Untuk dapat mendorong keinginan anak didik untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik,
5. Untuk menghindarkan salah pengertian atau salah paham antara anak didik yang satu dengan yang lain terhadap materi atau pesan yang disampaikan oleh guru/pendidik.
Sedangkan Roymond (2009), tujuan media pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indera
3. Menimbulkan semangat belajar, interaksi langsung antara peserta didik dan sumber belajar
4. Memungkinkan peserta belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori serta kinestetik
5. Memberiakn stimulus yang sama, membandingkan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama

C. Jenis dan Karakteristik Media
Kelompok Media Media Instruksional
Audio • Pita audio(rolkaset)
• Piringan audio
• Radio atau rekaman siaran
Cetak • Buku teks terprogram
• Buku pegangan atau manual
• Buku tugas
Audio Cetak • Buku latihan elektronik kaset
• Gambar atau poster dilengkapi audio
Visual Diam • Film bingkai(slide)
• Film rangkai (berisi pesan verbal)
Audio Visual Diam • Film bingkai suara
• Film rangkaisuara
Visual Gerak • Film bisu dengan judul (caption)
Audio Visual Gerak • Film suara
• Video/VCD/DVD
Objek • Benda nyata
• Model tiruan
Komputer • Media berbasis komputer
• CAI (Computer Assisted Instructional) dan CMI (Computer Managed Instructional)

Bila dikaitkan dengan dunia kesehatan, media yang sering digunakan dalam pendidikan kesehatan seperti:
a. Poster
Poster adalah media gambar yang memiliki sifat persuasif tinggi karena menampilkan suatu persoalan yang menimbulkan perasaan kuatterhadap publik. Fungsi utama poster adalah menyampaikan pertanyaan terhadap persoalan tersebut, bukan memberikan solusi atau jawabannya. Hal ini yang membuat poster berbeda dengan ilustrasi biasa. Tujuan poster adalah mendorong adanya tanggapan atau respon dari publik dan akan lebih baik apabila kemudian digunakan sebagai media diskusi.
Poster dibuat dengan gambar dan warna yang merangsang, dapat menerangkan pesan yang disampaikan secarajleas, dibuat tidak lebih dari tujuh kata dan dapat dibaca dalam jarak enam meter. Poster biasanya dipasang di tempat-tempat umum atau di tempat banyak orang berkumpul seperti di halte bus, pasar, persimpangan jalan, rumah sakit, puskesmas dan sekolah. Poster harus dapat menggugah emosi bagi masyarakat yangmelihatnya, sehingga mudah merubah prilaku masyarakat,postre dapatdibuat dengan ukuran 50x70 cm atau 35x50cm. Kelebihan poster adalah ilustrator yang dapat mengembangkan dramatisasi gambar yang bersebrangan, berbeda dan menimbulkan konflik dengan pandangan Publik. Meskipun photo dan gambar slide juga dapat digunakan dengan cara yang sama poster lebih banyak mengandung kreasi. Fokus dan tema poster harus memiliki relevansi dengan publik agar pesannya dapat ditangkap.
b. Leaflet
Leaflet merupakan selembar kertas yang berisi tulisan cetak tentang masalah kesehatan tertentu yang ingin disampaikan, untuk menambah pengetahuan sasaran, dapat digunakan sebagai bahan diskusi sehingga mencari sasaranyang lebih luas. Leaflet harus dibuat semenarik mungkin, dengan warna dan gambar yang ingin disampaikan, menerangkan pesan selengkap mungkin. Hindari kesalahan penulisan karena hal ini dapat mempengaruhi kesalahan persepsi sasaran. Leaflet berisi tulisan yang terdiri dari 200-400 kata, isi leaflet harus dapat ditangkap dengan sekali baca, leaflet harus dapat menerangkan dirinya sendiri, ukuran leaflet 20x30 cm.
c. Flipchart
Merupakan koleksi chart yang disusun dalam urutan tertentu, dengan ukuran sama dengan poster. Flipchart dapat dibawa kemana-mana, urutan penyajian dapat diatur dengan tepat. Penulisan dan jumlah flipchart tergantung pesan yang disampaikan dan waktu penyampaian.
d. Papan Tulis
Papan tulis biasanya digunakan oleh perawat komunitas saat melakukan pendidikan kesehatan pada setting sekolah. Papan tulis dapat digunakan berulang kali, untuk mengungkapkan berbagai macam informasi yang akan disampaikan. Pemanfaatan papan tulis harus disesuaikan dengan tempat duduk sasaran, bagian bawah papan tulis harus diletakkan sejajaran dengan mata sasaran agar sasaran tidak menengadah atau terlalu menunduk. Papan tulis diletakkan pada tempat yang mudah dilihat dan tidak terdapat pantulan sinar yang dapat mengganggu pandangan sasaran. Tulisan yang ingin disampaika harus jelas, singkat, mudah dibaca sasaran, jangan menghalangi sasaran menghadap papan tulis.
e. Buletin
Buletin merupakan alat peraga yang berukuran 90x120 cm yang biasanya ditempelkan gambar, tulisan dari topik tertentu. Prinsip pembuatan bulletin, tepatkan pada tempat yang mudah dilihat, gunakan pada peristiwa tertentu saja seperti pada waktu libur, judul harus menarik, tentukan jangka waktu pemasangan supaya tidak membosankan seperti 1-2 minggu untuk sekolah dan 3 minggu untuk ruangan umum. Keuntungan bulletin antara lain merangsang perhatian sasaran, menghemat waktu dan membiarkan pembaca belajar masalah dalam urutan tertentu, sebagai review terhadap bahan yang pernah diajarkan.
f. Flash card
Flash card merupakan alat peraga berupa kartu bergambar ukuran 25x30 cm untuk menyampaikan masalah tertentu, tulisan diletakkan di belakang gambar. Keuntungan penggunaan flash card, mudah dibawa kemana-mana, dapat disimpan


g. Buku cerita bergambar
Buku cerita bergambar merupakan alat peraga berupa buku yang berisi gambar, garis-garis, foto yang terdiri dari 12 halaman, dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok, keterangan gambar ditulis pada setiap gambar. Keuntungan penggunaan buku cerita bergambar adalah mudah dibuat, murati, mudah dibawa kemana-mana.
h. Chart
Chart merupakan penyampaian pesan dengan menggunakan gambir atau diagram dengan ukuran 50x75cm atau 75xl00cm, yang digunakan pada kelompok kecil. Keuntungan chart adalah mudah dibuat, pesan yang ruwet dapat diperlihatkan dengan cara sederhana.
i. Diorama
Diorama merupakan visualisasi tiga dimensi yang disajikan seolah-olah seperti bentuk nyata. Figur orang dan lainnya disusun cata letak untuk menggambarkan situasi.
j. Flannel Graph
Flannel Graph merupakan alat peraga yang menggunakan papan keras ditutup dengan flannel.
k. Stiker
Adalah media media yang berisi tulisan dan gambar serta dapat ditempel. Stiker adalah garis-garis hitam yang umumnya dibuat sebagai identifikasi terhadap sesuatu. Stiker merupakan suatu media tempel berperekat di bagian belakan, terbuat dari bahan kertas dan plastik, serta mempunyai warna yang mencolok. Dapat digunakan/di tempel di kaca, kertas, kayu ataupunplastik serta mempunyai daya tahan rekat yang lama. Cocok di tempel di kaca mobil, motor, atau tempat-tempat yang dapat menarik perhatian orang. Penggunaanya sangat mudah dan cukup dengan membersihkan media yang akan di tempel dengan stiker.
l. Buklet
Buklet adalah buku berukuran kecil (setengah kuarto) dan tipis, tidak lebih dari 30 halaman bolak balik, yang berisi tulisan dan gambar-gambar. Buklet merupakan perpaduan buku dan leaflet . Struktur isi menyerupai buku (pendahuluan, isi, penutup) hanya saja cara penyajian isinya jauh lebih singkat dari buku. Riwayat pengembangan buklet adalah kebutuhan untuk menyediakan referensi (bahan bacaan) bagin kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan mereka (petani, nelayan, ibu-ibu di pedesaan). Dengan adanya buklet kelompok masyarakat ini dapat memperoleh pengetahuan seperti membaca buku dengan waktu membaca sesingkat membaca leaflet.

D. Prinsip - Prinsip Pemilihan Dan Pemanfaatan Media Pembelajaran
Setiap media pembelajaran memiliki keunggulan masing – masing, maka dari itulah guru diharapkan dapat memilih media yang sesuai dengan kebutuhan atau tujuan pembelajaran. Dengan harapan bahwa penggunaan media akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu :
1. Harus adanya kejelasan tentang maksud dan tujuan pemilihan media pembelajaran. Apakah pemilihan media itu untuk pembelajaran, untuk informasi yang bersifat umum, ataukah sekedar hiburan saja mengisi waktu kosong. Lebih khusus lagi, apakah untuk pembelajaran kelompok atau individu, apakah sasarannya siswa TK, SD, SLTP, SMU, atau siswa pada Sekolah Dasar Luar Biasa, masyarakat pedesaan ataukah masyarakat perkotaan. Dapat pula tujuan tersebut akan menyangkut perbedaan warna, gerak atau suara. Misalnya proses kimia (farmasi), atau pembelajaran pembedahan (kedokteran).
2. Karakteristik media pembelajaran. Setiap media pembelajaran mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari keunggulannya, cara pembuatan maupun cara penggunaannya. Memahami karakteristik media pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya pemilihan media pembelajaran. Disamping itu memberikan kemungkinan pada guru untuk menggunakan berbagai media pembelajaran secara bervariasi.
3. Alternatif Pilihan, yaitu adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan atau dikompetisikan. Dengan demikian guru bisa menentukan pilihan media pembelajaran mana yang akan dipilih, jika terdapat beberapa media yang dapat dibandingkan.
Sedangkan Ibrahim (1991:24) menyatakan beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk memilih media pembelajaran, antara lain
1. Sebelum memilih media pembelajaran, guru harus menyadari bahwa tidak ada satupun media yang paling baik untuk mencapai semua tujuan. masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahan. penggunaan berbagai macam media pembelaiaran yang disusun secara serasi dalam proses belajar mengajar akan mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran,
2. Pemilihan media hendaknya dilakukan secara objektif, artinya benar-benar digunakan dengan dasar pertimbangan efektivitas belajar siswa, bukan karena kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan,
3. Permilihan media hendaknya memperhatikan syarat-syarat yaitu sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, ketersediaan bahan media, biaya pengadaan, dan kualitas atau mutu teknik.

E. Ragam Metode Pembelajaran
Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu mengetahui, mempelajari beberapa metode mengajar, serta dipraktekkan pada saat mengajar.
1. Ceramah
Ceramah merupakan salah satu metode penyampaian informasi yang disampaikan oleh perawat komunitas kepada masyarakat untuk menjelaskan ide, pengertian atau pesan kesehatan disertai diskusi dan tanya jawab secara langsung. Tujuan penyampaian ceramah untuk menyajikan satu pandangan tentang masalah yang menarik, secara langsung dan logis, menyajikan satu masalah untuk dibahas secara diskusi urnum sehingga merangsang masyarakat untuk berfikir dan belajar lebih lanjut tentang suatu masalah.
Keuntungan penggunaan metode ceramah adalah dapat dipakai pada orang dewasa dengan kelompok besar, tidak melibatkan terlalu banyak alat bantu, mudah untuk menyelenggarakannya, dapat dilakukan pada masyarakat berpendidikan tinggi maupun hanya menggunakan kata-kata saja, sehingga bila daya ingat masyarakat terbatas akan menyebabkan pesan kesehatan tidak sampai ke masyarakat karena hanya menggunakan satu indera saja. Perawat komunitas harus menguasai pokok pembicaraan, dan harus dapat memanfaatkan pendengarannya dengan cara menilai reaksi masyarakat baik verbal maupun non verbal. Pandangan harus tercuju pada semua sasaran masyarakat, dengan menggunakan suara yang cukup jelas dengan penampilan yang meyakinkan dan menguasai seluruh topik materi yang disampaikan.

2. Diskusi kelompok
Diskusi kelompok dapat dilakukan bila peserta diskusi kurang dari 15 orang. Agar semua peserta diskusi dapat berpartisipasi, diperlukan tata letak duduk berhadapan dan saling memandang satu sama lainnya, seperti saat melakukan kegiatan refleksi diskusi kasus (RDK). Tujuan diskusi diharapkan terjadi keterbukaan dan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, sehingga diperlukan peran fasilitator atau pemimpin diskusi untuk mengarahkan dan mengatur jalannya diskusi sehingga semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendaparnya tanpa ada dominasi diantara mereka. Keuntungan diskusi kelompok, dapat mendorong rasa kesatuan dan menciptakan rasa kepemimpinan bersama dengan saling memberikan pendapat dan memperoleh pendapat dari orang lain. Sedangkan kerugiannya, diskusi kelompok tidak dapat dipakai pada kelompok besar karena dianggap kurang efektif dan diskusi dapat berlarut-larut, terutama bila diskusi didominasi oleh orang-orang tertentu saja dan pemimpin diskusi tidak dapat mengarahkan jalannya diskusi.

3. Demonstrasi
Demonstrasi merupakan cara penyampaian ide yang dipersiapkan dengan teliti untuk mengevaluasi adanya perubahan psikomotor dengan memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan, prosedur dengan disertai alat peraga dan tanya jawab. Demonstrasi biasanya dilakukan oleh perawat komunitas untuk memberikan gambaran tentang prosedur atau langkah-langkah pelaksanaan terapi modalitas dan terapi komplemeiiter (terapi alternatif) di masyarakat, Evaluasi pencapaian pelaksanaan demonstrasi, dapat diketahui dari redemonstrasi yang dilakukan ulang oleh masyarakat. Tujuan demonstrasi adalah untuk mengajarkan bagaimana melaksanakan dan memperagakan suatu tehnik yang baru dengan cara meyakinkan masyarakat bahwa prosedur baru tersebut telah memberikan manfaat. Selain itu juga untuk meningkatkan minat belajar dengan mencoba sendiri prosedur yang didemonstrasikan.
Keuntungan demonstrasi, lebih meyakinkan masyarakat karena dapat segera ditiru dan dibuktikan, tidak hanya sekedar memberikan berita yang didengar dan dibaca saja. Kerugiannya, memerlukan waktu dan biaya besar dakm mempersiapkan bahan yang diperlukan, karena menggunakan benda dan bahan yang sesungguhnya. Selain itu peserta dapat memperoleh kesempatan memperagakan kembali apa yang sudah didemonstrasikan.

4. Metode Ceramah Plus
Metode ceramah plus adalah metode mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung dengan metode lainnya.Dalam hal ini penulis akan menguraikan tiga macam metode ceramah plus yaitu :
a) Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT).
Metode ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan pemberian tugas.
Metode campuran ini idealnya dilakukan secar tertib, yaitu :
1) Penyampaian materi oleh guru.
2) Pemberian peluang bertanya jawab antara guru dan siswa.
3) Pemberian tugas kepada siswa.
b) Metode ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
Metode ini dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
c) Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
Metode ini dalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill).


5. Metode Karya Wisata
Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.
Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut :
a) Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
b) Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
c) Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.
Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut :
a) Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
b) Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
c) Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan.
d) Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan.
e) Biayanya cukup mahal.
f) Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh. Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjautempat tertentu atau obyek yang lain.
Menurut Roestiyah (2001:85) , karya wisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Teknik karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut: Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum. Juga mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran.

6. Metode latihan keterampilan ( Drill method )
Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar , dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas dari mute/pernik-pernik.
Kelebihan metode latihan keterampilan sebagai berikut :
a) Dapat untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
b) Dapat untuk memperoleh kecakapan mental, seperti dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya.
c) Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
Kekurangan metode latihan keterampilan sebagai berikut :
a) Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian.
b) Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
c) Kadang-kadang latihan tyang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton dan mudah membosankan.
d) Dapat menimbulkan verbalisme.

7. Metode Discovery
Metode Discovery menurut Suryosubroto (2002:192) diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi.
Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encyclopedia of Educational Research, penemuan merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.
Langkah-langkah pelaksanaan metode penemuan menurut Suryosubroto (2002:197) yang mengutip pendapat Gilstrap (1975) adalah:
a) Menilai kebutuhan dan minat siswa, dan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realities untuk mengajar dengan penemuan,
b) Seleksi pendahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan dipelajarai,
c) Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan,
d) Berkomunikasi dengan siswa akan membantu menjelaskan peranan penemuan,
e) Menyiapkan suatu situasi yang mengandung masalah yang minta dipecahkan,
f) Mengecek pengertian siswa tentang maslah yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan,
g) Menambah berbagai alat peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan,
h) Memberi kesempatan kepada siswa untuk bergiat mengumpulkan dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa mempunyai data harga bahan-bahan pokok dan jumlah orang yang membutuhkan bahan-bahan pokok tersebut,
i) Mempersilahkan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiri, sehingga memperoleh tilikan umum,
j) Memberi kesempatan kepada siswa melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri,
k) Memberi jawaban dengan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi bila ditanya dan diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya,
l) Memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses,
m) Mengajarkan ketrampilan untuk belajar dengan penemuan yang diidentifikasi oleh kebutuhan siswa, misalnya latihan penyelidikan,
n) Merangsang interaksi siswa dengan siswa, misalnya merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan data yang terkumpul,
o) Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat yang sederhana,
p) Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandanganan dan tafsiran yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar,
q) Membesarkan siswa untuk memperkuat pernyataannya dengan alas an dan fakta,
r) Memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan, misalnya seorang siswa yang bertanya kepada temannya atau guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa siswa yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri,
s) Membantu siswa menulis atau merumuskan prinsip, aturan ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula dan yang telah ditemukan melalui strategi penemuan,
t) Mengecek apakah siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya teori atau teknik, dalam situasi berikutnya, yaitu situasi dimana siswa bebas menentukan pendekatannya.
Metode discovery memiliki kebaikan-kebaikan seperti diungkapkan oleh Suryosubroto (2002:200) yaitu:
a) Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu
b) Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer
c) Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan
d) Metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri
e) Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus
f) Metode discovery dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan,
g) Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada siswa dan guru berpartisispasi sebagai sesame dalam situasi penemuan yang jawaban nya belum diketahui sebelumnya
h) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisssisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.
Kelemahan metode discovery Suryosubroto (2002:2001) adalah:
a) Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subyek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada siswa yang lain
b) Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu.
c) Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudahy biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional,
d) Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. Sedangkan sikap dan ketrampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan
e) Dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada
f) Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti.

8. Metode SQ3R
a) Pengertian metode SQ3R
Metode SQ3R yang di kembangkan oleh Prof.Francis P.Robinson,seorang guru besar psikologi dari Ohio State Unifersity sejak tahun 1941. Nurhadi (1989) memberi istilah syrtabaku (survey, Tanya, baca, katakana, ulang). SQ3R merupakan metode yang sangat baik untuk membaca secara intensif dan rasional. Metode inilebih tepat di perlukan untuk keperluan studi. Karena itu metode ini dirancang menurut jenjang yang memungkinkan siswa untuk belajar sistematis,dan efisien.
Ada banyak metode membaca yang ditawarkan ilmuwan salah satunya adalah metode SQ3R. Metoda SQ3R memberikan strategi yang diawali dengan membangun gambaran umum tentang bahan yang dipelajari, menumbuhkan pertanyaan dari judul/subjudul suatu bab dan dilanjutkan dengan membaca untuk mencari jawaban dari pertanyaan. Membaca dengan metoda SQ3R terdiri atas lima tahapan proses yaitu :
1) Survey atau meninjau
2) Question atau bertanya
3) Read atau membaca
4) Recite atau menuturkan
5) Review atau mengulang


b) Lima Tahap Metoda SQ3R
1) Survey
Dengan melakukan peninjauan dapat dikumpulkan informasi yang diperlukan untuk memfokuskan perhatian saat membaca. Peninjauan untuk satu bab memerlukan waktu 5-10 menit. Beberapa hal yang perlu ditinjau saat tahap ini yaitu :
• Baca Judul. Dengan membaca judul kita dapat membantu untuk memfokuskan pada topik bab
• Baca Pendahuluan. Bab pendahuluan dapat memberikan orientasi dari pengarang mengenai hal-hal penting dalam bab
• Baca kepala judul/subbab. Hal ini dapat memberikan gambaran mengenai kerangka pemikiran
• Perhatikan grafik, diagram. Adanya grafik, diagram dan gambar ditujukan untuk memberikan informasi penting sebagai tambahan atas teks
• Perhatikan alat bantu baca termasuk huruf miring, definisi, pertanyaan di akhir bab yang ditujukan untuk membantu pemahaman dan mengingat.
2) Question
Setelah kerangka pemikiran suatu bab diperoleh, mulai perhatikan kepala judul/subbab yang biasanya dicetak tebal. Perhatikan kepala judul ini satu per satu dan ubah kepala judul ini jadi beberapa pertanyaan. Tulislah pertanyaan-pertanyaan itu pada suatu kolom dengan lebar 1/3 halaman kertas dan kolom sisanya untuk jawaban yang diperoleh selama membaca. Misalkan kita membaca buku tentang “Belajar di SMA” dan kepala judulnya adalah “Manfaatkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahmu”. Pertanyaan yang dapat kita mundulkan adalah “Mengapa kita harus memanfaatkan kegiatan ekstrakurikuler?” dan “Bagaimana caranya kita bisa ikut terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler?”.
3) Read
Dengan membaca, kita mulai mengisi informasi ke dalam kerangka pemikiran bab yang kita buat pada proses Survey. Bacalah suatu subbab dengan tuntas jangan pindah ke subbab lain sebelum kita menyelesaikannya. Pada saat membaca, kita mulai mencari jawaban pertanyaan yang kita buat pada Question. Tuliskan jawaban yang kita peroleh dengan dengan kata-kata sendiri di kertas yang pada 2/3 kolom yang disiapkan.
4) Recite
Pada umumnya kita cepat sekali lupa dengan bahan yang telah dibaca. Dengan melakukan proses Recite ini kita bisa melatih pikiran untuk berkonsentrasi dan mengingat bahan yang dibaca. Proses ini dilakukan setelah kita menyelesaikan suatu subbab. Cara melakukan Recite adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang kita buat sebelum membaca subbab tersebut dan cobalah jawab pada selembar kertas tanpa melihat buku.
5) Review
Review membantu kita untuk meyempurnakan kerangka pemikiran dalam suatu bab dan membangun daya ingat kita untuk bahan pada bab tersebut. Proses ini dapat dilakukan dengan membaca ulang seluruh subbab, melengkapi catatan atau berdiskusi dengan teman. Cara Review yang terbukti efektif adalah dengan menjelaskan kepada orang lain.

9. Metode PQ4R
Salah satu teknik belajar yang palng dikenal untuk membantu siswa memahami dan mengingat materi yang mereka baca adalah metode PQ4R (Thomas dan Robinson, 1972). Metode ini digunakan untuk meningkatkan kinerja memori dalam memahami substansi teks yang dapat mendorong pembaca melakukan pengolahan materi secara lebih mendalam dan luas. Metode PQ4R merupakan suatu strategi belajar yang meminta siswa untuk melakukan Preview (tugas membaca cepat dengan memperhatikan judul-judul dan topic utama, tujuan umum dan rangkuman, serta rumusan isi bacaan), Question (mendalami topic dan judul utama dengan mengajukan pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan dalam bacaan tersebut, kemudian mencoba manjawabnya sendiri), Read (tugasmembaca bahan bacaan secara cermat dengan mengajukan pengecakan padalangkah kedua), Reflect (melakukan refleksi sambil membaca dengan caramenciptakan gambaran visual dari bacaan dan menghubungkan informasi baru didalam bacaan tentang apa yang telah diketahui) , Recite (melakukan resitasidengan menjawab pertanyaan melalui suara keras yang diajukan tanpa membukabuku) dan Review (mengulang kembali seluruh bacaan kemudian membaca ulangbila diperlukan dan sekali lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan)pada materi yang dipelajari.
Melakukan Preview (membaca selintas) dan Question (mengajukan pertanyaan sebelum membaca) dapat mengaktifkan pengetahuan awal dan mengawali proses pembuatan hubungan antara informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya. Sehingga memudahkan perpindahannya dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dengan melakukan kegiatan selanjutnya yaitu Read (membaca), Reflect (merefleksi), Recite (tanya jawab sendiri) dan Review (mengulang secara menyeluruh).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar