Daftar Blog Saya

Senin, 25 Juni 2012

ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN PERKEMBANGAN BERAGAMA


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Dalam perkembangan manusia mulai dari prenatal hingga lanjut usia mengalami perkembangan agama yang selalu mengikuti seperti pada saat manusia itu dilahirkan pasti akan mengikuti agama yang dianut oleh orang tuanya karena hanya orang tuanya yang menjadikan anak itu islam, majusi, yahudi atau nasrani tetapi ketika manusia itu sudah menginjak usia remaja maka dia akan mulai berpikir secara mandiri bagaimana cara mengimplementasikan ajaran agama yang dianutnya dalam khidupan sehari-harinya hingga dia menginjak usia dewasa maka dia akan lebih matang dalam beragama.
Manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan lemah, fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap lebih-lebih pada usia dini. Fisik atau jasmani manusia baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi mental lainnya pun baru akan berfungsi jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya. Kemampuan itu tidak dapat dipenuhi secara sekaligus melainkan melalui pentahapan. Demikian juga perkembangan agama pada diri anak.
Perasaan anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.


B.       Tujuan
Berdasarkan latarbelakang diatas, masalah yang akan dibahas pada makalah ini yaitu
1.        Bagaimana perkembangan beragama pada anak, remaja dan dewasa?
2.        Apa saja faktor-faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan pada anak, remaja, dan dewasa?
3.        Bagaimana tahap-tahap perkembangan beragama pada anak ?
4.        Bagaimana sifat agama pada anak?
5.        Apa saja masalah dalam kesadaran beragama?

C.      Rumusan Masalah
 Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1.        Untuk mengetahui perkembangan beragama pada anak, remaja dan dewasa.
2.        Untuk mengetahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan anak, remaja dan dewasa.
3.        Untuk mengetahui tahap- tahap perkembangan beragama pada anak.
4.        Untuk mengetahui sifat agama pada anak.
5.        Untuk mengetahui masalah dalam kesadaran beragama.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Perkembangan Beragama
Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada Tuhan yang direfleksikan kedalam pribadaan kepadanya. Perkembangan beragama dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan dan lingkungan. Faktor pembawaan dan lingkungan yang mempengaruhinya yaitu:
1.        Faktor endogen yaitu faktor atau sifat yang dibawa oleh individu sejak dalam kandungan hingga kelahiran, jadi faktor endogen merupakan factor keturunan/ faktor pembawaan.
2.        Faktor eksogen yaitu faktor yang datang dari luar individu, merupakan pengalaman alam sekitar, pendidikan dan sebagainya.
1.        Agama pada masa anak- anak
Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
a.         0 – 2 tahun (masa vital)
b.         2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
c.         6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
2.        Perkembangan keberagamaan pada remaja dan dewasa
Perkembangan agama pada remaja ditandai dengan tingkah remaja yang berpendapat bahwa agama adalah omong kosong, mengingkari pentingnya agama dan menolak kepercayaan-kepercayaan terdahulu. Masa remaja disini dibagi menjadi 2 yaitu : 
a.         Masa remaja awal (sekitar usia 13-16 tahun)
Pada masa ini kepercayaan kepada tuhan kadang-kadang sangat kuat ,akan tetapi kadang sangat berkurang. Hal ini dapat terlihat pada cara beribadah kadang rajin kadang juga malas. Kegoncangan dalam keberagamaan ini muncul karena disebabkan faktor internal maupun eksternal.
b.        Masa remaja akhir (17-21 tahun)
Secara psikologis , masa ini merupakan permulaan masa dewasa , emosinya mulai stabil dan pemikirannya kritis. Dalam kehidupan beragama, remaja sudah mulai melibatkan diri kedalam kegiatan-kegiata keberagamaan dan dapat membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya diantaranya ada yang shalih dan tidak.                 
Perkembangan pikiran dan mental, ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik lagi bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi dan norma-norma kehidupan lainnya. Agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya. Sebaliknya agama yang ajaranya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para remaja sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya.
Perkembangan perasaan, berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja, perasaan sosial, etis dan estetis mendorong remaja untuk menghayati kehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya bagi mereka yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Karena masa remaja merupakan masa kematangan seksual didorong perasaan ingin tahu remaja lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual yang negatif.
Perkembangan keberagamaan pada orang dewasa jauh lebih mantap ke dalam bentuk tekun beribadah dengan ikhlas. Maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.         Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang bukan sekedar ikut-ikutan
b.        Cenderung bersifat realis sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku
c.         Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan;
d.        Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup
e.         Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani
f.         Terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami dan melaksanakan ajaran agama yang diyakininya

B.       Faktor-Faktor Dominan Yang Mempengaruhi Perkembangan Jiwa Keagamaan
1.        Pada anak - anak
Ada beberapa faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan pada anak , antara lain :
a.         Menurut Teori four wishes yang dikemukakan oleh perkembangan jiwa keagamaan anak adalah “rasa ketergantungan (sense of defence)”. Menurut teori ini, manusia dilahirkan kedunia memiliki empat keinginan, yaitu :
1)        Security yaitu keinginan untuk mendapatkan perlindungan
2)        New experience yaitu keinginan untuk mendapat pengalaman
3)        Response yaitu keinginan untuk mendapatkan tanggapan
4)        Recognition yaitu keinginan untuk dikenal
Kerjasama dalam rangka memenuhi keinginan-keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan, terutama orang-orang dewasa dalam lingkungannya itu maka terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak.
b.        Instink keagamaan
Pendapat ini dikemukakan oleh Woodworth, menurutnya, bayi yang dilahirkan sudah memiliki instink, diantaranya instink keagamaan, namun instink ini pada saat bayi belum terlihat, hal itu dikarenakan “beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna”. Pandangan Woodworth ini mendapat sanggahan dari sekelompok ahli dengan mengajukan argumentasi:
1)        Jika anak sudah memiliki instink keagamaan, mengapa orang tidak terhayati secara ototmatis ketika mendengar lonceng gereja dibunyikan.
2)        Jika anak sudah memiliki instink keagamaan, mengapa terdapat perbedaan agama di dunia ini? Bukankah cara berenang itik dan cara brung membuat sarang yang didasari pada tingkahlaku instingtif akan sama caranya disetiap penjuru duia ini? (Jalaluddin. 2002:65-66).
2.        Pada remaja dan dewasa
Jiwa keagamaan juga mengalami proses perkembangan dalam mencapai tingkat kematangan. Dengan demikian jiwa keagamaan tidak luput dari berbagai gangguan yang dapat mempengaruhi perkembangannya. Pengaruh tersebut baik yang bersumber dari dalam diri seseorang (intern) maupun yang bersumber dari faktor luar (ekstern).
a.         Faktor intern
Secara garis besarnya faktor-faktor yang ikut berpengaruh terhadap perkembangan jiwa keagamaan antara lain :
1)        Faktor kognitif, mengacu pada remaja yang memiliki mental masih abstrak, mereka hanya mengkaji isu-isu agama dengan berpatokan pada dasar-dasar agama tanpa memperdalaminya lebih lanjut.
2)        Faktor personal, mengacu pada konsep individual dan identitas, individual maksudnya seseorang itu selalu menyendiri sedangkan identitas maksudnya proses menuju pada kestabilan jiwa.
3)        Faktor hereditas, perbuatan yang buruk dan tercela jika dilakukan akan menimbulkan rasa bersalah dalam diri pelakunya. Bila pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan agama maka akan timbul rasa berdosa dan perasaan seperti ini yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan seseorang.
4)        Tingkat usia, pada usia remaja saat mereka menginjak usia kematangan seksual mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan mereka. Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan yang cenderung mempengaruhi terjadinya konversi agama. Bahkan pada usia adolesensi sebagai rentang umur tipikal terjadinya konversi agama meskipun konversi cenderung dinilai sebagai produk sugesti dan bukan akibat dari perkembangan kehidupan spiritual seseorang.
5)        Kepribadian, dalam kondisi normal secara individu manusia memiliki perbedaan dalam kepribadian dan perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan. Di luar itu dijumpai pula kondisi kepribadian yang menyimpang seperti kepribadian ganda dan sebagainya kondisi seperti ini juga ikut mempengaruhi perkembangan berbagai aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan.
6)        Kondisi kejiwaan, seorang yang mengidap schizoprenia akan mengisolasi diri dari kehidupan sosial serta persepsinya tentang agama akan dipengaruhi oleh berbagai halusinasi.
Demikian pula pengidap phobia akan dicekam oleh perasaan takut yang irasional sedangkan penderita infantil autisme (berperilaku seperti anak-anak) akan berperilaku seperti anak-anak di bawah usia sepuluh tahun. 
b.        Faktor ekstern
Faktor ekstern yang dinilai berpengaruh dalam perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat dari lingkungan di mana seseorang itu hidup. Umumnya lingkungan tersebut dibagi menjadi tiga yaitu:
1)        Lingkungan keluarga, konsep father image (citra kebapaan) menyatakan bahwa perkembangan jiwa keagamaan dipengaruhi oleh citra terhadap bapaknya. Kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan. Pengaruh kedua orang tua terhadap perkembangan jiwa keagamaan dalam pandangan Islam sudah lama disadari. Oleh karena itu sebagai intervensi terhadap perkembangan jiwa keagamaan tersebut kedua orang tua diberikan beban tanggung jawab. Keluarga dinilai sebagai faktor yang paling dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan.
2)        Lingkungan institusional, yang ikut mempengaruhi perkembangan jiwa kegamaan dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang nonformal seperti berbagai perkumpulan dan organisasi. Kurikulum, hubungan guru dan murid serta hubungan antar teman dilihat dari kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan tampaknya ketiga kelompok tersebut ikut berpengaruh sebab pada prinsipnya perkembangan jiwa keagaman tidak dapat dilepaskan dari upaya untuk membentuk kepribadian yang luhur. Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan seseorang.
3)        Lingkungan masyarakat, yang memiliki tradisi keagamaan yang kuat akan berpengaruh positif bagi perkembangan jiwa keberagamaan sebab kehidupan keagamaan terkondisi dalam tatanan nilai maupun institusi keagamaan. Keadaan seperti ini akan berpengaruh dalam pembentukan jiwa keagamaan warganya.


C.      Tahap-Tahap Perkembangan Beragama
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.        Tingkat Dongeng ( The Fairly Tale Stage )
Pada tahap ini anak yang berumur 3-6 tahun konsep mengenal Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastik, yang diliputi oleh dongeng-dongeng. Menurut hasil penelitian Dr. Hanni mengindikasikan bahwa kemampuan berfikir tentang konsep agama pada anak sangat sedikit, kalau tidak dikatakan tidak ada artinya dan itu hanyalah permainan bebas dari fantasi dan emosinya. Hal ini menjadi wajar, karena konsep agama biasanya cukup rumit dan mengatasi daya tangkap intelektual anak, sehingga terjadi penerimaan atau penolakan itu merupakan hal yang wajar. Dan itu terjadi tentunya bukan pemahaman secara intelektual melainkan pada alasan lain.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada pemuka agama daripada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kanak-kanaknya.
2.        Tingkat Kepercayaan (The Realistic Stage)
Pada fase ini ide-ide tentang Tuhan muncul dan telah tercermin dalam konsep yang realistik, dan biasanya muncul dari lembaga agama atau pengajaran orang dewasa. Ide keagamaan muncul dari anak didasarkan atas emosional, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Tahap ini dimulai sejak usia masuk sekolah 7 tahun. Yang perlu dicatat pada tahap ini adalah bahwa pada tahap usia tujuh tahun dipandang sebagai permulaan perturnbuhan logis, sehingga wajar ketika Rosulullah mernerintahkan untuk menyuruh anak-anak umatnya untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan memberi sanksi berupa pukulan apabila melanggarnya.
3.        Tingkat Individu ( The Individual Stage )
Pada tingkat ini, anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistic ini terbagi menjadi tiga golongan, yaitu :
a.         Konsep ketuhanan yang konvensioal adan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi
b.        Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal
c.         Konsep ketuhanan yang humanistik yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama

D.      Sifat-Sifat Agama Pada Anak
Ide keagamaan pda anak tumbuh mengikuti pola “ideal concept in authoristy”, artinya konsep keagamaan anak dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Jadi ketaatan anak-anak pada ajaran agama merupakan dampak dari apa yang mereka lihat, mereka pelajari dan dibiasakan oleh orang-orang dewasa atau orang tua di lingkungannya. Berdasarkan konsep itu maka sifat dan bentuk agama anak-anak dapat dibagi atas:
1.        Unreflective (tidak mendalam)
Hal ini ditunjukkan dengan kebenaran ajaran agama diterima anak tanpa kritik, tidak begitu mendalam dan sekedarnya saja. Mereka sudah cukup puas dengan keterangan-keterangan walau tidak masuk akal.
2.        Egosenris
Hal ini ditunjukkan dengan dalam melaksanakan ajaran agama anak lebih menonjolkan kepentingan dirinya. Anak lebih menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya. Misalnya: anak berdo’a/sholat yang dilakukan utuk mencapai keinginan-keinginan pribadi.
3.        Anthromorphis
Hal ini ditunjukkan dengan konsep anak dengan Tuhan tmpak seperti menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. Dengan kata lain keadaan Tuhan sama dengan manusia, misalnya pekerjaan Tuhan mencari dan menghukum orang yang berbuat jahat disaat orang itu berada dalam tempat yang gelap. Menurut hasil penelitian Praff, anak usia 6 tahun menggambarkan Tuhan seperti manusia yang mempunyai wajah, telinga yang lebar dan besar. Tuhan tidak makan tapi hanya minum embun saja. Jadi konsep Tuhan dibentuk sendiri berdasarkan fantasi masing-masing.
4.        Verbal dan ritual
Hal ini ditunjukkan dengan : menghapal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan. Mengerjakan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntutan yang diajarkan
5.        Imitatif
Hal ini ditunjukkan dengan anak suka meniru tindakan keagamaan yang dilakukan oleh orang-orang dilingkungannya (orang tua).
6.        Rasa Heran
Ini merupakan sifat keagamaan yang terakhir pada anak-anak. Hal ini ditandai dengan anak mengagumi keindahan-keindahanlahiriah pada ciptaan Tuhan, namun rasa kagum ini belum kritis dan kratif.

E.       Masalah dalam kesadaran beragama
Dalam perkembangan beragama terdapat beberapa masalah yang muncul. Masalah ini biasanya berupa problem keimanan, yaitu :
1.        Proses perkembangan keimanan
Manusia itu dilahirkan membawa dua potensi atau disposisi yang sama-sama berkembang. Dua disposisi tersebut adalah takwa dan fujur. Fujur merupakan disposisi yang mendorong individu untuk berkembang menjadi jahat. Sedangkan takwa merupakan disposisi yang mendorong individu untuk berkembang menjadi baik. Apabila kedua potensi tersebut dalam perkembangannya berlangsung secara alami, maka potensi takwa akan mewujud dalam bentuk sikap, keyakinan atau kepercayaan. Contohnya seperti terjadi pada masyarakat primitif yang menganutu animisme atau dinamisme. Sedangkan yang fujur tampak dalam wujud perilaku impulsif atau perilaku naluriah yang berlangsung tanpa pertimbangan akal sehat atau norma agama.
2.        Konflik keyakinan dengan situasi kehidupan sosial
Masalah besar yang terjadi dalam kehidupan adalah munculnya berbagai kondisi yang bertentangan dengan nilai-nilai keimanan atau agama yang dianut. Bagi mereka yang kehidupan beragamanya masih labil, kondisi ini akan menimbulkan konflik dalam dirinya, yang apabila kurang mendapat bimbingan akan cenderung terjerumus kedalam kondisi tersebut.
Korban akibat kondisi tersebut tidak hanya pada orang dewasa (dengan perilaku kolusi, penyalahgunaan wewenang atau pelecehan seksual), tetapi dapat juga terjadi pada remaja. Remaja yang kadar keimanannya masih labil akan mudah terjangkit konflik batin dalam berhadapan dengan kondisi lingkungan yang menyajikan berbagai hal yang menarik hati/keinginannya, tetapi kondisi ini bertentangan dengan norma agama. Kondisi lingkungan yan memiliki daya tarik bagi remaja tetapi bertentangan dengan norma agama itu diantaranya film-film atau foto porno, minuman keras, ganja atau narkotika, model pakaian, kehidupan malam dan pemakaian alat kontrasepsi.    

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Agama pada masa anak-anak terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diterima dari lingkungan lalu terbentuk sifat keagamaan pada anak, Woodwort berpendapat bahwa bayi memiliki insting keagamaan, akan tetapi disanggah oleh pemikir Islam bahwa bayi tidak mempunyai insting keagamaan melainkan itu merupakan fitrah yang cenderung kearah potensi keagamaan.
Tahap perkembangan keagamaan pada anak melalui tiga tahapan yaitu tingkat dongeng, tingkat kepercayaan, dan tingkat individu. Sifat Agama pada anak mengikuti pola concept on authority yaitu konsep keagamaan yang dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka (anak) itu sendiri. Memahami sifat agama pada anak berarti memahami sifat agama itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA


Yusuf, Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2008.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar